Minggu, 10 April 2016

yahya fh unisi makalah sejarah perkembangan budaya melayu riau




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Riau, baik Riau daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah provinsi itu. Riau Kepulauan pernah berjaya dengan Kerajaan Riau-Lingga dengan pusatnya di Pulau Penyengat. Tinggalan-tinggalan budaya itu ada yang berupa benda bergerak maupun benda tak bergerak seperti bangunan masjid, istana, benteng, dan makam raja-raja Riau-Lingga. 
Suku Melayu merupakan etnis yang termasuk ke dalam rumpun ras Austronesia. Suku Melayu dalam pengertian ini, berbeda dengan konsep Bangsa Melayu yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. 
Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, Mindanao, Myanmar Selatan, serta pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah Suku Melayu sekitar 3,4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami propinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.
Dalam buku Sejarah Melayu disebut bahwa Melayu adalah nama sungai di Sumatera Selatan yang mengalir disekitar bukit Si Guntang dekat Palembang. Si Guntang merupakan tempat pemunculan pertama tiga orang raja yang datang ke alam Melayu. Mereka adalah asal dari keturunan raja-raja Melayu di Palembang (Singapura, Malaka dan Johor), Minangkabau dan Tanjung Pura.
Pada waktu itu sebutan Melayu merujuk pada keturunan sekelompok kecil orang Sumatera pilihan. Seiring dengan berjalannya waktu definisi Melayu berdasarkan ras ini mulai ditinggalkan.
Berdasarkan dari uraian diatas maka kami ingin lebih memperluas kembali suku Melayu khususnya yang berada di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.







B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian budaya ?
2.      Apa Unsur-Unsur Budaya?
3.      Apa Ciri-Ciri Kebudayaan?
4.      Bagaimana Keutuhan (Integrasi) Kebudayaan?
5.      Bagaimana Nilai – Nilai Adab  Melayu Riau Dalam  Kebudayaan Melayu Riau?
6.      Bagaimana sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau?
7.       Bagaimana struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau?
8.      Apa Tugas dan fungsi dari struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau?


C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui apa pengertian budaya
2.      Untuk mengetahui apa Unsur-Unsur Budaya
3.      Untuk mengetahui  apa ciri-ciri Kebudayaan
4.      Untuk mengetahui bagaimana keutuhan (Integrasi) Kebudayaan
5.      Untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai adab melayu riau dalam kebudayaan melayu riau
6.      Untuk mengetahui bagaimana sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau
7.      Untuk mengetahui bagaimana struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau
8.      Untuk mengetahui implementsi tugas dan fungsi struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian budaya

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di
Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan
duniamakna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

B.     Unsur-Unsur Budaya

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau ocial kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • ocial ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • ocial norma ocial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
C.     Ciri-Ciri Kebudayaan

Ciri-ciri kebudayaan tersebut adalah senantiasa berubah, tingkah laku yang dipalajari,pola tingkah laku yang dipelajari, hasl dari tingkahlaku orang yang dipelajari,dibagi oleh anggota masyarakat, dan dialihkanoleh para anggota.

1.      Senantiasa berubahKebudayaan itu bersifat dinamis, selalu berubah sesuai dengan perkembangan situasi atau zaman yang membingkainya.
2.      Tingkahlaku yang dipelajariKebudayaan sangat mempengaruhi pembentukan manusia.Anggota masyarakat terus melakukan proses belajar, misalnya dari orang tua, teman, lingkungan sekolah, lembaga keagamaan, dan sebagainya.
3.      Pola tingkah laku yang dipelajari Bahwa tingkah laku yang dipelajari mempunyai hubungan di antara unsur-unsur pola tersebut.
4.       Hasil dari tingkah laku yang dipelajari Ide dari seseorang merupakan hasil dari apa yang ia pelajari orang atau kelompok yang lain. Ada tiga wujud hasil kebudayaan yang dipalajari, yaitu menyangkut nilai-nilai, gagasan-gagasan, norma dan sebagainya; kompleks tindakan-tindakan berpola; dan pengetahuan untuk menghasilkan benda-benda hasil karya manusia.
5.       Dibagi oleh anggota masyarakatTingkah laku yang dipelajari itu hasil-hasilnya tidak milik seseorang atau kelompok tertentu. Ia merupakan milik masyarakat secara menyeluruh. Nilai dan sikap itu dipelajari dari masyarakat.
6.      Dialihkan para anggotaTingkah laku yang dipelajari dialihkan atau ditularkan dari satu generasi berikutnya melalui bermacam-macam cara, misalnya melalui tulisan di tembok atau prasasti, dan sebagainya.Di samping ciri utama tersebut, kebudayaan juga memiliki ciri-ciri, antara lain dapat memuaskan, bersifat adaptif, bersifat integrative, dan sebagaiabstraksidasarmanusia.

1)      Kebudayaan itu dapat memuaskan Ia memuaskan kebutuhan-kebutuhan manusia, bukan hanya menyangkut makanan dan pakaian, tetapi juga membantu dan memilihara hubungan dengan pihak-pihak lain, baik penyesuaian maupun kelompok.
2)      Kebudayaan bersifat adaptif Kebudayaan memiliki sifat dapat menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan luar yang beraneka ragam.
3)       Kebudayaan bersifat intergratif Meskipun memiliki unsur-unsur pembangunan yang berbeda, tetapi kebudayaan mampu mengikat masyarakat secara meneluruh.
4)       Kebudayaan merupakan suatu abstraksi kenyataan dasar manusia Tingkah laku manusia dan hasil-hasilnya merupakan bentuk kebudayaan hasil abstraksi kenyataan dasarmanusia.


D.    Keutuhan (Integrasi) Kebudayaan

Telah diterangkan di muka, bahwa unsur-unsur kebudayaan banyak sekali jumlah dan macamnya.Meskipun demikian, unsur-unsur kebudayaan itu saling berhubungan satu dengan lainnya. Artinya, kebudayaan suatu suku bangsa atau bangsa tertentu tampak utuh tidakterpecah-pecah,contohnya
adalah keris.Keris merupakan hasil kebudayaan Jawa. Keris memiliki hubungan dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa lainnya,misalnya menyangkut kepercayaan. Orang Jawa percaya, keris tertentu yang memiliki kekuatan gaib dapat berpengaruh pada kehidupan pemilik keris tersebut.
Keris dapat bersifat baik, dan dapat pula bersifat jelek seringkali, sifat keris tersebut tergambar pada kehidupan pemiliknya.


Keris juga mempunyai hubungan denganp akaian adapt Jawa. Ada yang beranggapan keris sebagai benda seni, pusaka nenek moyang, benda bertuah, dan sebagainya. Dengan demikian, keris sebagai hasil budaya mempunyai keterkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan lain dalam masyarakat Jawa.
Dengan demikian, keris sebagai hasil budaya mempunyai keterkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan lain dalam masyarakat Jawa.

Pergaulan hidup suku bangsa Indonesia berdasarkan gotong royong.Kita dapat melihat lebih jelas kalau kebudayaan Indonesia itu dikaitkan dengan keadaan lingkungan alam.
Kepulauan Indonesia terletak di daerah tropis dengan tumbuh-tumbuhan dan hewn khas daerah tropis. Keadaan lingkungan alam tropis ikut menyebabkan kesamaan-kesamaan dalam kebiasaan, cara hidup, dan mata pencaharian hidup.

Rangkuman
jadi,budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
[2]
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku oranglain

E.     Ragam Seni budaya Kota Pekanbaru
  • Tarian
Tari Persembahan adat MelayuTari Persembahan adalah Sebuah tari Melayu yang khusus untuk menyambut tamu-tamu, Tak lengkap rasanya bila suatu acara khusus tidak menampilkan tari persembahan ini. tari persembahan bisa dibilang tari sekapur sirih. bila rentak irama gendangnya dipercepat,ini  menandakan acara pemberian sirih kepada tamu undangan dimulai, Begitulah sampai para penari beranjak pergi.
  • Nyanyian
Kumpulan Lagu-lagu daerah RiauLagu Daerah Riau – Riau sebagai daerah kaya budaya dan seni sudah pasti memiliki lagu daerah sendiri. Ada banyak lagu-lagu daerah Riau, mulai dari lagu berbahasa Melayu,

Kebanyakan lagu daerah Riau jarang diputar radio-radio kota Pekanbaru, kecuali lagu-lagu sudah sangat populer seperti Lancang Kuning yang memang maestronya lagu daerah Riau.
Lagu Seroja
Lagu Tuanku Tambusai
Lagu Lancang Kuning
Lagu Tanjung Katung
Lagu Selayang Pandang
Lagu Hangtuah
Lagu Bunga Tanjung
Lagu Soleram
Kutang Barendo, Lagu daerah Kampar
Moncik Badasi, Lagu daerah Kampar
Randai Lomak Diurang Katuju di Awak, Lagu daerah Taluk Kuantan, Kuansing
  • Musik tradisional
Gambus Melayu Riau, Seni Musik TradisionalGambus Melayu Riau, Seni Musik TradisionalGambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual dan kebersamaan dalam masyarakat Melayu di Pekanbaru yang terjadi pada waktu ke waktu menyebabkan perubahan pandangan masyarakat terhadap kesenian Gambus dan Zapin.kompang  talempong.
  • Kerajinan Tradisional
Kerajinan dari kota pekanbaru adalah perabotan yang terbuat dari rotan
  • Upacara tradisional
ü  Para ibu-ibu dan tetangga dekat sedang  memasak untuk acara Resepsi Pernikahan, biasanya diadakan di rumah mempelai perempuan.Di Kabupaten pekanbaru dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong ini pula, maka di kampar jarang sekali yang melakukan “catering” untuk acara pernikahan.
ü  Acara Shalawatan (Badiqiu)
Badiqiu merupakan suatu acara Budaya sakral yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat
ü   Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba’aghak)
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah PihakPerempuan.
Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.
  • Cerita rakyat
Berikut kumpulan cerita rakyat dari berbagai daerah di Riau diantara, Dumai, Indragiri Hilir dan Kota Pekanbaru.
- Cerita Rakyat Riau, Dumai: Putri ujuh
- Cerita Rakyat Riau, Inhil: Batu Batangkup
- Cerita Rakyat Riau: Si Lancang Kuning
- Cerita Rakyat Riau, Kota Pekanbaru – Putri Kaca Mayang
- Cerita Rakyat Riau, Inhil – Batang Tuaka
- Cerita Rakyat Riau, Kuansing – Ombak Nyalo Simutu Olang
  • Permainan rakyat
Permainan Tradisional Daerah Riau, GasingPermainan Tradisonal Riau
Apa permainan tradisional daerah Riau?.Jika Anda adalah orang Riau apalagi orang Melayu pasti sudah tahu, atau pernah memainkan, atau malah membuatnya.
Ya, mianan tradisional Riau, salah satunya, adalah gasing. Tidak jelas kapan pertama kalinya orang-orang memainkan gasing.Memang permainan tradisional di daerah Riau tidak hanya gasing, namun nyatanya gasinglah yang paling populer.
Gasing banyak banyak dimainkan di daerah Riau kepulauan seperti Natuna, Tanjung Pinang, Lingga dan disepanjang pantai timur Sumatra, khususnya orang Melayu.
Permainan bang senebu
Permainan ini dimainkan anak dengan jumlah 5-12 anak.Pemainan ini dimulai denga “uang” sejenis hompimpah.lalu dilanjutkan dengan cak gocih.Kemudian baru bermain bang senebu yang selanjutnya dilanjutkan pok-pok pungguk.
  • Peninggalan sejarah
1.      Mesjid Raya Pekanbaru
Lokasi : Kecamatan Senapelan
Kotamadya : Pekanbaru
2.      Makam Mahrum Bukit Dan Mahrum Pekan
Lokasi : Kecamatan Senapelan
Kotamadya : Pekanbaru
3.       Tugu Pahlawan Kerja
Lokasi : Kecamatan Bukit Raya.
Kotamadya : Pekanbaru
4.      . Balai Adat Riau
Lokasi : Jalan Pangeran Diponegoro Pekanbaru.
Kotamadya : Pekanbaru.
5.       Bukit Batu, Bekas Tapak Kaki Manusia
Lokasi : Sungai Pakning
Kabupaten : Bengkalis.
6.       Komplek Istana Kerajaan Siak
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
7.       Makam Marhum Buantan
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
8.       Mesjid Kerajaan
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
9.       Makam Keluaga Raja
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
  • Makanan
Berikut daftar menu kuliner, masakan Riau beserta resepnya yang-bisa ditemukan di-berbagai tempat Bumi Lancang Kuning :
Gulai Asam Pedas Ikan Patin, Masakan Khas Riau daratan
Gulai Belacan, Masakan Khas Riau pantai timur Sumatra
- Gulai Sayur Lemak Kuah Santan, Kuliner Khas Riau
Sambal Terung Asam, Masakan Khas Melayu Riau
- Bacah Daging, Kuliner – Makanan Khas Riau
Gulai Belacan Udang – Makanan Khas Riau
  • Rangkuman
Daerah pekanbaru adalah sebagai ibukota provinsi Riau, jadi harus tetap menjaga semua tradisi melayu yang ada.

F.      Ragam Seni Budaya Daerah Kampar
  • adat istiadat
Sebagai insan pendukung adat,tradisi dan kebudayaan masyarakat Melayu sangat mengenal prinsip tahu diri,yang artinya orang melayu senantiasa berpegang pada ungkapan “Man ‘arafa nafsahu fa qod ‘arafa rabbahu” bermakna siapa mengenal dirinya kenallah dia dengan Tuhannya.
Mekanisme pengenalan diri ini diatur secara adat resam yang telah beradaptasi dalam kehidupan masyarakat
melayuBengkalis. Hal ini dapat kita lihat pada nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat perkawinan atau pernikahan di Bengkalis Negeri Junjungan.
Ajaran dan syariat agama Islam menjadi bagian yang paling utama termasuk pada upacara sakral helat pernikahan, sehingga disebut Adat Melayu bersendikan Syarak,  Syarak bersendikan Kitabullah. Oleh karena itu senarai pernikahan ini memaparkan susur galur adat istiadat pernikahan atau perkawinan masyarakat
melayu yang mengarah kepada kepentingan upacara protokoler.

Adapun tahapan – tahapan yang dilalui pada upacara adat pernikahan ini antara lain
•   
Merisik
•   
Meminang
•   
Mengantung
•   
Berinai Curi
•   
Berandam
•   
Antar Belanja
•   
Akad Nikah
•   
Upacara Berinai Lebai
•   
Khatam Al-quran
•   
Mengantar Hidangan
•   
Berarak
•   
Bersanding
•   
Makan Nasi Damai
•   
Upacara Menyembah
•   
Mandi Kumbo Taman
•   
Berkunjung Sanak Keluarga
  • Kesenian
Pantun Melayu Menyambut Ramadhan
Pantun Melayu Menyambut Ramadhan, inilah ide yang timbul setelah sekian lama Blog Wisata Riau ini tidak tersentuh belaian mesra dariku, apa lagi sekarang kita memang sedang menyambut Bulan Suci Ramadhan. Untuk memeriahkan menyambut Bulan Suci Ramadhan ini saya mengajak kawan-kawan blogger untuk berpantun di kolom komentar, bagi yang ikut dapat tunjangan menyambut Bulan Suci Ramadhan dari saya. Yakni backling gratis dalam postingan ini. Baiklah inilah pantun pertama dari Krishadiawan :
Anak melayu mengail ikan
Perahu berlabuh ditengah lautan
Sambil menunggu datangnya Ramadhan
Pesan maaf kami sampaikan
  • Tarian
Tari sekapur sirih
Tari ini menggambarkan ungkapan rasa putih hati masyarakat dalam menyambut tamu. Sekapur Sirih biasanya ditarikan oleh 9 orang penari perempuan, dan 3 orang penari laki-laki, 1 orang yang bertugas membawa payung dan 2 orang pengawal. Propetri yang digunakan: cerano/wadah yang berisikan lembaran daun sirih, payung, keris. Pakaian: baju kurung /adat Jambi, iringan musik langgam melayu dengan alat musik yang terdiri dari : biola, gambus, akordion, rebana, gong dan gendang.
  • Pakaian
Adat istiadat tentu tidak terlepas dari Pakain Adat, itu sebuah ciri khas suatu daerah dengan adat istiadatnya sesuai dengan Hukum dan Norma Adat yang berlaku. Berikut beberapa foto pakaian adat, tradisional Melayu Riau. Pakain Adat ini adalah pakaian tradisional Riau, walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah Riau, yaitu pakaian adat Melayu Riau.
  • Mata pencarian
Desa ranah memilikih ke unikan tersendiri, dimana desa ini dikelilingi oleh aliran Sungai Kampar. Jumlah penduduknya sekitar 1.000 kepala keluarga dengan mata pencarian sebagian besar adalah pedagang, petani perkebunan dan petani tambak ikan.Di desa ini terdapat objek wisata budaya, yaitu berupa rumah adat suku Bendang. Selain itu di desa ini ada makanan khas berupa ikan lomak yang berasal dari tambak dan menjadi ciri khas masakan di daerah ini.Daerah ini merupakan sentra produksi ikan di Kabupaten Kampar, bahkan di provinsi Riau.Warga masyarakat desa Ranah sangat kental dengan adat istiadat dan agama.
  • Agama
Sebagian besar penduduk kampar menganut agama islam.

G.    Ragam Seni budaya daerah Bengkalis Dan Siak
  • Adat istiadat
Upacara melahirkan adalah merupakan upacara – upacara yang adalah karena bagi masyarakat orang Melayu Riau lautan orang yang melahirkan sama halnya dengan orang yang pergi berperang. Dalam peperangan itu bertarung dengan maut, ia hanya menghadapi dua kemungkinan, yaitu hidup dan mati.
Besarnya tantangan dan resiko yang dihadapi oleh seorang ibu yang melahirkan upacara melahirkan. Tujuannya adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena seorang ibu telah selesai dan selamat dalam melahirkan bayinya.
Tujuan pelaksanaan upacara melahirkan adalah :
a.      
Untuk menghalau sejenis hantu atau setan penghisap darah orang perempuan yang sedang melahirkan.
b.       Memohon kepada Tuhan agar orang yang melahirkan mendapat selamat dalam melahirkan bayinya.
Bentuk upacara melahirkan yang dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Riau lautan berupa :

§  Persiapan menyambut kelahian bayi, yaitu menyiapkan rumah tempat melahirkan.
§  Meletakkan alat – alat, benda – benda yang dipakai dalam upacara melahirkan.
§  Menunggu saat melahirkan, apabila saat melahirkan tiba ada dua bidan yang disebut bidang bawah dan bidan atas adalah memandikan ibu, mengganti pakaian ibu. Sedangkan bidan bawah tugasnya memandikan bayi, merawat pusat dan perut agar tetap panas sehingga terhindar dari penyakit perut.





  • Seni
Songket adalah salah satu kerajinan budaya melayu yang berupa kain tenun yang biasanya dipakai pada acara-acara formal. Songket dapat digunakan oleh wanita maupun pria. untuk membuat songket dibutuhkan alat tenun  yang pada umumnya masih dibuat secara tradisional atau dikerjakan secara manual dengan menggunakan tangan dan kaki.
  • Tarian
Zapin

Musik pengiringnya terdiri dari dua alat yang utama yaitu alat musik petik
gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
  • Pakaian
Gambar / Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Siak Riau

Foto / Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Kabupaten Bengkalis Riau


  • Mata pencaharian
Mata pencaharian penduduk Bengkalis adalah sebagai nelayan dan juga PNS, karena di Pulau Bengkalis inilah letak pusat pemerintahan untuk kabupaten Bengkalis , yang meliputi Duri dan Dumai. Bisa dibayangkan dong, kalau ingin membuat akte kelahiran kita harus menyebrang pulau dari Duri ke Pulau ini
  • Agama
Di bengkalis dan siak penduduk nya ada yang menganut agama islam,Kristen dan konghouchu.
5.adat perkawinan

ü  Para ibu-ibu dan tetangga dekat sedang memasak untuk acara Resepsi Pernikahan,biasanya diadakan di rumah mempelai perempuan.Di Kabupaten Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong ini pula, maka di kampar jarang sekali yang melakukan “catering” untuk acara pernikahan.

ü  Acara Shalawatan (Badiqiu) Badiqiu merupakan suatu acara Budaya sakral yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat.
ü  Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba’aghak)
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah
Pihak Perempuan.Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.
ü  Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)
Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, “jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran (Jambau), ini bisa kita temui di beberapa daerah saja di kabupaten kampar.
ü 
Pernikahan adat melayu riau

Upacara adat melayu riau diawali dari
1. Malam Berinai
2. Berandam
3. Upacara pernikahan
4. Resepsi pernikahan

malam berinai adalah malam memasangkan inai di jari calon mempelai yg di hadiri oleh para keluarga mempelai dan ibu-ibu rabana. dimana acara ini di pimpin oleh mak andam.
upacara berandam adalah mencukur bulu halus yang ada di wajah calon pengantin wanita, yang di pimpin oleh mak andam. adapun media untuk berandam adalah :

1. pisau silet
2. kain putih 2 meter
3. kelapa tua
4. jeruk purut
5. telur ayam kampung
6. bunga kenanga dan bunga mawar
7. Lilin
setelah dilakukan upacara berandam besok hari nya baru dilanjutkan upacara pernikahan yaitu pembacaan ijab kabul.setelah pembacaan ijab kabul biasanya di lanjutkan dengan resepsi pernikahan. biasanya di Riau khusus nya di Pekanbaru resepsi sering di laksanakan di Aula Masjid Agung An-nur.
terlihat padatnya jadwal yang sudah di pesan jauh- jauh hari untuk dilaksanakan nya resepsi pernikahan. jadi jika resepsi nya direncanakan diaula masjid Agung Annur harus dipesan jauh-jauhhari.


Foto Pakaian Adat Melayu Riau
Foto / Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Kabupaten Bengkalis Riau

Foto Pakaian Adat Melayu Riau

Gambar / Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Tanjung Pinang, Kepulauan Riau

Foto Pakaian Adat Melayu Riau
Foto / Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Batam Kepulauan Riau


Foto Pakaian Adat Melayu Riau
Gambar / Foto Pakaian Adat, Tradisional Indragiri Riau


Foto Pakaian Adat Melayu Riau
Gambar / Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Siak Riau


Foto Pakaian Adat Melayu Riau

Foto Pakaian Adat Melayu Riau
Gambar / Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Tanjung Pinang, Kepulauan Riau


Foto Pakaian Adat Melayu Riau

Foto Pakaian Adat Melayu Riau

Foto Pakaian Adat Melayu Riau

Foto Pakaian Adat Melayu Riau
H.    Nilai – Nilai Adab  Melayu Riau Dalam  Kebudayaan Melayu Riau

Nilai-nilai Islam akan mendominasi dan mengakar kuat dalam sistem budaya suatu masyarakat apabila nilai-nilai Islam berakulturasi ke dalam budaya masyarakat melalui proses yang intensif, gradual, akomodatif, empatif, dan berkelanjutan, bukan frontal dan konfrontatif Dari sisi sosiologi, akulturasi Islam ke dalam suatu masyarakat dapat menjadikan Islam sebagai suatu identitas dan pengikat solidaritas suatu komunitas (spirit de corps), karena itu identitas dan solidaritas suatu komunitas tidak mutlak berdasarkan kesatuan etnis. Ia juga dapat juga terbentuk atas kesatuan aqidah. Kesatuan sosial inilah yang disebut dengan ummat
Dakwah islamiyah yang dilaksanakan dengan pendekatan cultural, akomodatif –empatik, menghasilkan respon yang positif-simpatik, dapat menekan intensitas konflik karena perbedaan sistem dan orientasi nilai, mengembangkan toleransi, saling menghormati, dan menerima kemajemukan keberagaman umat sebagai realitas historis dan manusiawi. Secara empiris, akulturasi Islam ke dalam budaya Melayu Palalawan, telah menjadikan Islam sebagai identitas kemelayuan orang Pelalawan, sehingga identitas kemelayuan tidak selamanya didasarkan pada faktor genetis, tapi juga dapat terbentuk atas dasar aqidah.
Dengan demikian, “Melayu” adalah konsep terbuka yang dapat dimasuki siapa saja melalui koridor Islam. Sebaliknya kemelayuan orang Melayu akan hilang apabila tidak berbajukan Islam. Secara praktis operasional, penelitian ini memberi kontribusi bahwa orang-orang Melayu akan mencapai kemajuan apabila pandangan hidup mereka yang dogmatis-mistis ditransformasikan kepada pandangan hidup yang rasional empiris melalui transformasi pemikiran dan pemahaman mereka atas Islam dan nilai-nilai budayanya sendiri, sehingga keberagamaan dan keberbudayaan orang-orang Melayu menjadi lebih rasional.

I.       Sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau

Jika pada mulanya suatu kampung di Riau didiami oleh mereka yang sesuku, maka pada perkembangn kemudian telah banyak penduduk baru yang bukan sesuku merupakan penduduk pendatang yang ikut berdiam di kampung tersebut. Datangnya penduduk baru mungkin disebabkan perkawinan dan ada pula disebabkan adanya mata pencaharian ditempat tersebut. Dengan demikian, masyarakat kampung tadi tidak terikat oleh karena kesatuan suku, tetapi dengan perkembangan baru itu, ikatan tersebut tidak lagi bersifat kesukuan, tetapi terikat karena kesatuan tempat tinggal dan kampung halaman.
Kampung-kampung tersebut dipimpin oleh seorang kepala kampung yang disebut “Penghulu” dan sekarang merupakan pamong desa yang dipilih berdasar peraturan pemerintah.
Disamping penghulu ini terdapat pula pimpinan bidang agama, yaitu “imam”. Imam inilah yang mengurus segala persoalan yang menyangkut keagamaan, seperti menjadi imam mesjid, pengajian dan pelajaran agama, nikah/cerai/rujuk, pembagian warisan, pengumpulan zakat dan lainnya. Dengan demikian penghulu dengan didampingi oleh imam merupakan pimpinan kampung.
a.      Pimpinan dalam kesatuan hidup setempat
Terdapat bermacam-macam sebutan untuk pimpinan dalam kesatuan hidup setempat. Pada mulanya struktur kesatuan hidup setempat berdasarkan kesukuan, maka pemimpin adalah kepala suku atau kepala hinduk. Gelar kepala suku atau kepala hinduk ini bermacam-macam, sebagai berikut:
1.      Datuk = disamping menjadi kepala suku, sekaligus menjadi pimpinan territorial yang agak luas yang mencakup dan membawahi beberapa kepala suku dan hinduk-hinduk.
2.      Penghulu, batin, tua-tua, jenang dan monti adalah gelar untuk kepala suku dan hinduk-hinduk.
Perkembangan kemudian menyebabkan pula perobahan batas-batas territorial, kalau pada mulanya territorial mengikuti suku, yaitu dimana suku tersebut menetap, maka lingkungan tempat tinggalnya itu menjadi daerah kekuasaannya. Tetapi keadaan ini kemudian berbalik, yaitu suku yang mengikuti territorial. Teritoir ini kemudian disebut “kampung”, “rantau” atau “banjar”. Mereka yang tinggal dalam lingkungan teritoir tadi mejadi penduduk kampung dan dengan sendirinya kampung ini mencakup beberapa kesukuan. Untuk kampung, rantau atau banjar ini diangkat seorang kepala kampung yang disebut “penghulu”.

b. Hubungan sosial dalam kesatuan hidup setempat
Dikampung-kampung penduduk saling mengenal satu sama lain, karena masyarakat kampung memiliki rasa keterikatan antara satu sama lainnya masih kuat.

Kerukunan merupakan cirri khas dari masyarakat kampung-kampung tersebut. Adanya kerukunan ini bukan disebabkan karena paksaan dari luar berupa sangsi-sangsi hukuman yang keras, tetapi memang timbul dari hati nurani yang dipengaruhi oleh norma-norma yang hidup dimasyarakat itu.

Mulai dari gerak-gerik, sikap dan pembawaan dipengaruhi oleh faktor ini. Menghindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan aib dan malu merupakan fakor pendorong untuk terus berbuat dan bersikap baik terhadao sesamanya dan perasaan yang demikian lebih kuat dibandingkan dengan perasaan berdosa. Segala tindakan harus dijaga supaya tidak menimbulkan “sumbang mata”, “sumbang telinga”, “sumbang adab”. Secara keseluruhan haruslah dihindari hal-hal yang menyebabkan orang di cap sebagai seorang yang “tidak tau adat’.
Dengan demikian jelaslah, norma-norma yang bersifat lebih besar pengaruhnya, sehingga jarang dijumpai adanya pertikaian dan sengketa. Dalamhal ini pengaruh kepemimpinan penghulu dan imam merupakan saham yang besar, sehingga pertikaian-pertikaian yang timbul segera dapat didamaikan.

c.  Stratifikasi Sosial

Dasar-dasar stratifikasi sosial

Adapun masyarakat di saerah ini pada dasarnya terdiri dari dua golongan, yaitu golongan asli dan golongan penguasa. Sebelum adanya kerajaan Siak Sri Inderapura, kepala-kepala suku yang menguasai hutan tanah, “territorial” bernaung dibawah kerajaan Johor.

Setelah Raja Kecil yang dapat meduduki takhta Kerajaan Johor, terpaksa meninggalkan Johor dan terkhir membuka kerajaan baru di sungai Siak, maka kerajaannya dinamakan “Kerajaan Siak Sri Inderapura”. Dengan keadaan yang baru ini, terjadilah pembagian golongan dalam masyarakat. Jika pada mulanya yang ada hanya kepala suku sebagai puncak dan anggota sukunya sebagai dasarnya, maka dengan adanya Sultan beserta keturunannya, terjadilah tingkatan sosial baru sebagai berikut:

1.      Raja/Ratu dan Permaisuri yang merupakan tingkat teratas.
2.      Keturunan Raja yang disebut anak Raja-raja, merupakan lapisan kedua,
3.      Orang baik-baik yang terdiri dari Datuk Empat Suku dan Kepala-kepala suku lainnya beserta keturunannya merupakan lapisan ketiga,
4.      Orang kebanyakan atau rakyat umum, merupakan tingkatan terbawah.
Adanya tingkatan sosial tersebut membawa konsekuensi pula dibidang adat istiadat dan tata cara pergaulan masyarakat. Makin tinggi golongannya semakin banyak hak-haknya. Keistimewaan dalam tata pakaian, tempat duduk dalam upaca-upacara menunjukan adanya perbedaan itu

Perubahan dalam stratifikasi sosial

Perubahan ketata negaraan membawa perubahan pula dalam stratifikasi sosial ini. Saat ini ketentuan-ketentuan adat ini sudah tidak mengikat lagi dan pada umumnya sudah disesuaikan dengan alam demokrasi sekarang, sehingga perbedaan golongan tingkat ini sudah tidak kelihatan lagi dalam pergaulan. Pada waktu ini lebih diutamakan kepribadian, kedudukan dan keadaan materiel seseorang menurut ukuran sekarang.

Dalam upacara perkawinan misalnya, maka yang mempunyai kemampuan materiel, bisa memakai pakaian dan perlengkapan yang seharusnya dieruntukan bagi seorang Raja atau Sultan. Dalam upacar adat yang diadakan sekrang, yang dianggap tinggi adalah pejabat-pejabat pemerintah sesuai menurut kedudukannya sekarang, tidak lagi Datuk-datuk atau Tengku-tengku. Upacara adat sekarang sudah beralih fungsinya. Adanya pucara adat ini hanya sekedar menunjukkan identitas suuku bangsanya dengan kejayaannya dengan masa lampau.

J.      Struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau

Masyarakat Melayu Riau pada dasarnya terdiri dari dua dua stratifikasi Sosial atau golongan, yaitu golongan masyarakat asli dan golongan penguasa atau bangsawan kesultanan. Meskipun demikian, struktur sosial orang Melayu Riau sebenarnya longgar dan terbuka bagi kebudayaan lain. Sehingga banyak orang Arab dan Bugis yang menjadi bangsawan.
Wan adalah gelar bangsawan bagi orang Arab dan raja adalah gelar kebangsawanan orang Bugis. Mereka juga mendapat kedudukan yang sangat tinggi (Sultan Siak dan Sultan-sultan Kerajaan riau-Lingga). Sedangkan, gelar bangsawan untuk orang Melayu adalah tengku.
Pada awalnya kepala-kepala suku yang menguasai hutan tanah, “territorial” bernaung di bawah kerajaan Johor. Namun setelah Raja Kecil dapat meduduki takhta Kerajaan Johor, terpaksa Keluarga kesultanan meninggalkan Johor dan membuka kerajaan baru di sungai Siak, maka kerajaannya dinamakan “Kerajaan Siak Sri Inderapura”. Dalam keadaan yang baru ini, pembagian golongan dalam masyarakat Riau mulai berlaku.
Jika pada mulanya yang ada hanya kepala suku sebagai puncak dan anggota sukunya sebagai dasarnya, maka dengan adanya Sultan beserta keturunannya, terjadilah tingkatan sosial baru sebagai berikut: Raja/Ratu dan Permaisuri yang merupakan tingkat teratas. Keturunan Raja yang disebut anak Raja-raja, merupakan lapisan kedua. Orang baik-baik yang terdiri dari Datuk Empat Suku dan Kepala-kepala suku lainnya beserta keturunannya merupakan lapisan ketiga. Orang kebanyakan atau rakyat umum, merupakan tingkatan terbawah.
Adanya tingkatan sosial tersebut membawa konsekuensi pula dibidang adat istiadat dan tata cara pergaulan masyarakat. Makin tinggi golongannya semakin banyak hak- haknya, seperti; keistimewaan dalam tata pakaian, tempat duduk dalam upaca-upacara pun menunjukan adanya perbedaan itu.
Pada perkembangan kekinian, seiring dengan perubahan ketatanegaraan akhirnya berubah juga  stratifikasi sosial ini. Saat ini ketentuan-ketentuan adat ini sudah tidak mengikat lagi dan pada umumnya sudah disesuaikan dengan alam demokrasi sekarang. Sehingga perbedaan golongan tingkat ini sudah tidak kelihatan lagi dalam pergaulan. Pada waktu ini lebih diutamakan kepribadian, kedudukan dan keadaan materiel seseorang menurut ukuran sekarang.
Dalam upacara perkawinan misalnya, bagi mereka yang mempunyai kemampuan materiel, bisa memakai pakaian dan perlengkapan yang seharusnya diperuntukan bagi seorang Raja atau Sultan. Dalam upacar adat yang diadakan sekarang, yang dianggap tinggi adalah pejabat-pejabat pemerintah sesuai menurut kedudukannya sekarang, bukan lagi Datuk-datuk atau Tengku-tengku. Upacara adat sekarang sudah beralih fungsinya. Adanya upacara adat ini hanya sekedar menunjukkan identitas suku bangsanya dengan kejayaannya dengan masa lampau.
Dengan demikian, perkembangan budaya dalam pemahaman nation atau negara Indonesia hari ini, tidak mengenal kasta, strata, jenis tertentu dalam masyarkat. Hal ini menunjukkan sisi egalitarian bangsa Indonesia dalam menyikapi ragam budaya, serta garis sejarah yang panjang di masing-masing daerahnya.
Dengan sifat egalitarian ini, sangat memungkinkan perbedaan yang ada bisa kita duduk sejajar dalam bermasyarakat meski berasal dari asal usul, golongan atau nenek moyang yang berbeda. Dan pentingnya pembelajaran adat dan budaya nenek moyang adalah untuk memahami makna filosofis yang terkandung bukan untuk memperdalam jurang pemisaha kebhinekaan kita.

K.    Tugas dan fungsi dari struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau

Beberapa tugas dan fungsi struktur kemasyarakatan masyarakat melayu di beberapa daerah riau diantaranya adalah sebagai berikut.  Kampar Dikabupaten kampar yang kita kenal sekarang, memiliki bentuk struktur kemasyarakatan yang beragam, sehingga mewarnai tugas dan fungsinya.
 Dikenal dengan istilah kenegrian, bentuk struktur kemasyrakatannya merupakan gabungan dari persukuan. Tetapi sebaliknya ada juga yang dikenal dengan hanya suku saja. Menurut Hendrik anak Abdulrahman (bahan-bahan untuk menyusun kitap khatam kaji doktoral, 2012), sebagai sebuah kumpulan dari persukuan, maka yang duduk dalam kenegerian tersebut adalah ketua-ketua suku. Sebagai contoh dalam masyrakat kecamatan kampar alias kenegerian kampar, dapat diterangkan sebagai berikut: Pucuk tertinggi kenegrian kampar: - Suku Domo ( domo tua ) bergelar datuk temenggung. Tugasnya menggurus keluar dan kedalam persukuan. Bertanggung jawap penuh terhadap kesukuan (pucuk tertinggi) - Suku Pitopang bergelar Dtuk Manjo Bosau.
Tugasnya kedalam persukuan (dalam sistem pemerintahan sekarang, sama dengan sekda) Mereka dibantu oleh: - Suku Domo (mudo) bergelar Datuk Bijanso - Suku Melayu (tua) bergelar Datuk Baduku Tua - Suku Melayu (muda) bergelar Datuk Marajo Bosau - Suku Piliang bergelar Datuk Tiawan - Suku Kampai bergelar Datuk Paduko - Suku Bendang bergelar Datuk Somak Dirajo Catatan : struktur adat dalam setiap kenegrian berbeda-beda, sesuai dengan suku yang ada dalam negri tersebut suku: setiap suku memiliki struktur, yakini: - Penghulu : pucuk tertinggi dalam suku - Tungkek : wakil penghulu - Tuo Kampung : yang mengurus sosial masyarakat - Malin kebesaran : yang mengurus masalah agama - Dubalang : keamanan - Siompu : yang mengurus masalah perempuan
Kuantan dan sengingi: Kawasan kuantan dan sengingi yang kini masuk dalam admistrasi pemerintahan kabupaten kuantan sengingi semula merupakan kawasan kerajaan-kerajaan kandis yang bentuk struktur sistem kemasyarakatannya sekaligus berkaitan dengan fungsi maupun tugasnya, diperkirakan menggunakan sistem kerajaan pada abad ke-8. Pada gilirannya sistem ini menurut susunan suku dan koto-koto. Negri ini kemudian dikenal sebagai Negori Puluh Kurang Osu atau negeri terdiri atas 19 koto yang dipimpin oleh 19 Datuk dengan berkedudukan di koto-koto. Menurut Prof Suwardi MS (2010), koto-koto dikuantan dibagi menurut aliran Batang Kuantan (Sungai Indragiri) dan kawasan daratan sebagai beikut: - Empat koto yang berkedudukan di Lubuk Ambacang. Pemimpinya di sebut Datuk Patih; - Limo koto di tongah berkedudukan di kari dengan pemimpin yang disebut Datuk Lelo Budi; - Empat koto dihilir berkedudukan di inuman dipimpin oleh Datuk Temenggung; - Empat koto digunung dipimpin oleh Datuk Bendaro; - Satu koto di Lubuk Ramo, dipimpin oleh Datuk Timbang Tali; - Satu koto di Logas Tanah Darek berkedudukan dilogas Tanah Darat yang dipimpin oleh Datuk Rajo Ruhum, dan - Satu koto di Pangean berkedudukan di Desa Koto Tinggi Pengean yang dipimpin oleh Penghulu nan Barompek. Koto-koto itu kemudian membentuk federasi yang masing-masing dipimpin oleh Urang Godang ( orang besar ).
Orang godang ini dipimpin salah seorang diantaranya, disbut Datuk Bisai, berkedudukan di Teluk Kuantan. Lain lagi di Sengingi. Di kawasan ini dua datuk dibedakan atas Raja Adat dari Pagaruyung dan Rajo Ibadat dari semanjung Melayu ( Malaysia sekarang ). Mereka disebut Datuk Nan Beduo, di sebut juga Urang Godang Antau. Mereka bertugas dan berfungsi sebagai pelaksana pemerintahan, mengatur kehidupan masyarakat sebagai pihak terkelola. Pekerjaan mereka untuk urusan adat dibantu oleh tujuh datuk. Jadi, jumlah datuk yang menjalankan tugas maupun fungsi pemerintahan dan adat berjumlah sembilan oarang, sehingga disebut Datuk yang Sembilan. Tujuh datuk berkedudukan dikoto-koto Tanjung Pauh (utara) dan logas (selatan), yaitu: - Datuk Bendaro Kali - Datuk Mangkuto Sinaro - Datuk Sinaro Nan Putiah - Datuk Besar - Datuk Maharajo Garang - Datuk Nyato - Datuk Jalelo –
Siak sri indrapura Kerajaan siak sri indrapura memiliki kawasan lebih luas di banding kerajaan-kerajaan yag pernah ada di kawasan melayu Riau. Secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taaat beragama, siak dalam anggapan melayu sangat bertali erat dengan agama islam. orang siak adalah orang-orang yang ahli agama islam. dalam bahasa sansekerta, sri berarti''bercahaya'' dan indera bermakna ''raja''. sedangkan pura berarti ''kota atau kerajaan''. Membandingkan dengan catatan Tome pires (1513-1515) belum mnyebutkan adanya nama siak antara kawasan arcat dan indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja minangkabau serta juga menyebutkan dari tiga raja minangkabau itu hanya satu raja yang telah masuk islam sehingga jika dikaitkan dengan pepatah minangkabau yang terkenal'' adat menurun syara' mendaki dapat bermakna masuknya islam ke dataran tinggi pedalaman minangkabau dari siak sehingga orang-orang yang ahli dalam agama sejak dahulu sampai sekarang masih tetap di sebut dengan orang siak.
Nama siak dapat merujuk pada sebuah klan dikawasan antara pakistan dan india, sihag atau asiag yang bermakna pedang. masyarakat ini di kaitkan dengan bangsa asli, masyarakat nomanden yang disebut oleh masyarakat romawi dan diidentifikasikan sebagai sakai oleh strabo seorang penulis geografi yunani. berkaitan dengan ini pada sehiliran sungai siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat asing yang dinamakan sebagai orang sakai.
kerajaan siak sri indrapura Pernah menguasai daerah-daerah disumatra utara dan kalimanatan barat samapi pertengahan abad ke-19, kerajaan ini meninggalkan pengaruh yang amat besar pada wilayah provinsi riau sekarang seperti kota pekanbaru, kota dumai, kabupaten bengkalis, kabupaten meranti, kabupaten rokan hilir dan kabupaten siak sendiri. Sebagian palalawan dan kampar, pernah berada dalam kawasan kerajaan siak.
 Tidak diherankan apabila bentuk struktur dengan tugas dan fungsi sistem kemasyarakatan didaerah-daerah tersebut mengacu pada apa yang terjadi secara umum dalam kerajaan siak. awalnya kerajaan ini di dirikan di Buantan oleh raja kecik dari Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723,setelah sebelumnya tersingkir atas tahta kesultanan johor. Disisi lain, harus diakaui sistem kemasyarakatan dikawasan ini tidak terjadi secara otomatis begitu saja saat raja kecik membangun kekuatan baru di buantan setelah tersingkir dari johor awal abad ke-18. Sebab sebelumnya juga, dikawasan tersebut telah hidup suatu kerajaan yang cukup berpengaruh yakini gasip.
Dengan demikian, penataan pemerintahan dan kemasyarakatan yang dilakukan raja kecik pada tahun-tahun awal berkuasa, besar kemungkinan modifikasi dari sistem kemasyarakatan yang telah ada sebelumnya. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja kecik membantu penasehat sultan atau disebut orang besar yakini: - Datuk Lima Puuh bergelar Sri Bijuangsa - Datuk Tanah Datar bergelar Sri Pekerma Raja - Datuk pesisir bergelar Maharaja Ketuangsa, dan - Datuk Laksmana Raja Dilaut Pembesar kerajaan lain yang membantu sultan adalah: - Panglima perang - Datuk Himba Raja - Datuk Bentara Kiri - Datuk Bentara Kanan, dan - Datuk Bendahara Untuk berhubungan langsung dengan masyarakat, di setiap daerah, pemerintah dibagi-bagai menjadi kepala suku yang bergelar penghulu, orang kaya, dan batin.
Khusus penghulu, tidak memiliki tanah ulayat yang dalam pekerjaan dibantu oleh : - Sangko panghulu atau wakil penghulu - Malin penghulu, pembantu urusan kepercayaan, atau agama - Lelo penghulu, pembantu urusan adat sekaligus berfungsi sebagai hulubalang Adapun batin dibantu oleh: - Tongkat, urusan yang menyangkut kewajiban-kewajiban terhadap sultan - Monti, pembantu batin urusan adat - Antan-antan, pembantu batin yang sewaktu-waktu dapat dapat mewakili tongkat atau monti kalau keduanya berhalangan. Sekurang-kurangnya terdapat sepuluh perbatinan dan empat penghulu telah terwujud saat raja kecik mengembangkan kawasan ini menjadi kerajaan siak.












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari makalah ini adalah sejauh mana pengetahuan seseorang terhadap kebudayaannya sendiri dipengaruhi oleh berberapa hal dan salah satunya adalah dirinya sendiri. Besar atau kecilnya nya rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaannya itulah yang nantinya mencerminkan bahwa sejauh mana seseorang mengenali budayanya sendiri.Jika semakin kecil rasa kecintaannya maka jelaslah seseorang tersebut belum terlalu dekat dengan budaya sukunya sendiri, begitu juga sebaliknya.
Mengenali budaya sendiri khususnya melayu merupakan sebuah keharusan baginya yang mengaku melayu.Sedikit banyaknya pengetahuan kita mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya melayu menjadikan kita secara tidak langsung mempelajari budaya itu sendiri. Seperti yang dikatakan para pakar bahwa seseorang yang mengaku melayu jikalau ia: 1. Berbahasa melayu, 2. Beradat-istiadat Melayu dan 3. Beragama Islam. Maka dari itu, ketiga hal inilah menjadi patokan ataupun barometer sejauh mana kita sudah menjadi bagian dari budaya itu sendiri khususnya budaya melayu.

B.      SARAN

Penulis merekomendasikan pada semua lapisan masyarakat agar lebih memahami nilai-nilai yang terkandung didalam setiap kebudayaan masing-masing (disini:_budaya melayu riau). Semua orang pasti memiliki cara pandang yang berbeda-beda untuk mendeskripsikan bentuk kebudayaannya. Dan setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mempertahankan dan memajukan kebudayaannya sendiri. Sebagai seorang melayu hendaknya lebih mengedepankan kembali apa-apa saja yang berkaitan dengan kebudayaan melayu, termasuk menanamkan diri sendiri rasa bangga dan cinta kepada budaya melayu itu sendiri.







DAFTAR PUSTAKA

Effendy, T. 1985. Kumpulan Ungkapan. Naskah yang belum diterbitkan, Pekanbaru.
Hoeve, I. B. van. 1984. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Kerajaan Siak. 1901. Babul Qawa‘id. Siak Sri Indrapura: Percetakan Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Sujiman, P. H. M. 1983. Adat Raja-raja Melayu.Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Tonel, T. 1920. Adat-istiadat Melayu.Naskah tulisan tangan huruf Melayu Arab, Pelalawan.
Yayasan Kanisius. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.