BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Riau, baik Riau
daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai latar belakang sejarah yang cukup
panjang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah
provinsi itu. Riau Kepulauan pernah berjaya dengan Kerajaan Riau-Lingga dengan
pusatnya di Pulau Penyengat. Tinggalan-tinggalan budaya itu ada yang berupa
benda bergerak maupun benda tak bergerak seperti bangunan masjid, istana,
benteng, dan makam raja-raja Riau-Lingga.
Suku Melayu
merupakan etnis yang termasuk ke dalam rumpun ras Austronesia. Suku Melayu
dalam pengertian ini, berbeda dengan konsep Bangsa Melayu yang terdiri dari
Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Suku Melayu
bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir
Kalimantan, Thailand Selatan, Mindanao, Myanmar Selatan, serta pulau-pulau
kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia,
jumlah Suku Melayu sekitar 3,4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar
mendiami propinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera
Selatan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.
Dalam buku
Sejarah Melayu disebut bahwa Melayu adalah nama sungai di Sumatera Selatan yang
mengalir disekitar bukit Si Guntang dekat Palembang. Si Guntang merupakan
tempat pemunculan pertama tiga orang raja yang datang ke alam Melayu. Mereka
adalah asal dari keturunan raja-raja Melayu di Palembang (Singapura, Malaka dan
Johor), Minangkabau dan Tanjung Pura.
Pada waktu itu
sebutan Melayu merujuk pada keturunan sekelompok kecil orang Sumatera pilihan.
Seiring dengan berjalannya waktu definisi Melayu berdasarkan ras ini mulai
ditinggalkan.
Berdasarkan
dari uraian diatas maka kami ingin lebih memperluas kembali suku Melayu
khususnya yang berada di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian budaya ?
2.
Apa Unsur-Unsur Budaya?
3.
Apa Ciri-Ciri Kebudayaan?
4.
Bagaimana Keutuhan (Integrasi) Kebudayaan?
5.
Bagaimana Nilai
– Nilai Adab Melayu Riau Dalam Kebudayaan Melayu Riau?
6.
Bagaimana sistem
kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau?
7.
Bagaimana struktur
kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau?
8.
Apa Tugas dan
fungsi dari struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui apa pengertian budaya
2.
Untuk mengetahui apa Unsur-Unsur Budaya
3.
Untuk mengetahui apa ciri-ciri Kebudayaan
4.
Untuk mengetahui bagaimana keutuhan
(Integrasi) Kebudayaan
5.
Untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai adab melayu riau
dalam kebudayaan melayu riau
6.
Untuk mengetahui bagaimana sistem kemasyarakatan dalam
kebudayaan melayu riau
7.
Untuk mengetahui bagaimana struktur kemasyarakatan dalam
kebudayaan melayu riau
8.
Untuk mengetahui implementsi tugas dan fungsi struktur
kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
budaya
Budaya adalah suatu pola hidup
menyeluruh.budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.Banyak aspek budaya
turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan
meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan duniamakna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan duniamakna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
B.
Unsur-Unsur
Budaya
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau ocial kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
- Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
- alat-alat teknologi
- ocial ekonomi
- keluarga
- kekuasaan politik
- Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
- ocial norma ocial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
- organisasi ekonomi
- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
- organisasi kekuatan (politik)
C.
Ciri-Ciri
Kebudayaan
Ciri-ciri kebudayaan tersebut adalah senantiasa berubah, tingkah laku yang dipalajari,pola tingkah laku yang dipelajari, hasl dari tingkahlaku orang yang dipelajari,dibagi oleh anggota masyarakat, dan dialihkanoleh para anggota.
1.
Senantiasa
berubahKebudayaan itu bersifat dinamis,
selalu berubah sesuai dengan perkembangan situasi atau zaman yang
membingkainya.
2. Tingkahlaku yang dipelajariKebudayaan sangat mempengaruhi pembentukan manusia.Anggota
masyarakat terus melakukan proses belajar, misalnya dari orang tua, teman,
lingkungan sekolah, lembaga keagamaan, dan sebagainya.
3. Pola tingkah laku yang dipelajari Bahwa
tingkah laku yang dipelajari mempunyai hubungan di antara unsur-unsur pola
tersebut.
4. Hasil dari tingkah
laku yang dipelajari Ide dari seseorang merupakan hasil
dari apa yang ia pelajari orang atau kelompok yang lain. Ada tiga wujud hasil
kebudayaan yang dipalajari, yaitu menyangkut nilai-nilai, gagasan-gagasan,
norma dan sebagainya; kompleks tindakan-tindakan berpola; dan pengetahuan untuk
menghasilkan benda-benda hasil karya manusia.
5. Dibagi oleh anggota
masyarakatTingkah laku yang dipelajari itu
hasil-hasilnya tidak milik seseorang atau kelompok tertentu. Ia merupakan milik
masyarakat secara menyeluruh. Nilai dan sikap itu dipelajari dari masyarakat.
6. Dialihkan para anggotaTingkah
laku yang dipelajari dialihkan atau ditularkan dari satu generasi berikutnya
melalui bermacam-macam cara, misalnya melalui tulisan di tembok atau prasasti,
dan sebagainya.Di samping ciri utama tersebut, kebudayaan juga memiliki
ciri-ciri, antara lain dapat memuaskan, bersifat adaptif, bersifat integrative,
dan sebagaiabstraksidasarmanusia.
1)
Kebudayaan
itu dapat memuaskan Ia memuaskan kebutuhan-kebutuhan
manusia, bukan hanya menyangkut makanan dan pakaian, tetapi juga membantu dan
memilihara hubungan dengan pihak-pihak lain, baik penyesuaian maupun kelompok.
2)
Kebudayaan
bersifat adaptif Kebudayaan memiliki sifat dapat
menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan luar yang beraneka ragam.
3)
Kebudayaan bersifat intergratif Meskipun memiliki unsur-unsur pembangunan yang berbeda,
tetapi kebudayaan mampu mengikat masyarakat secara meneluruh.
4)
Kebudayaan merupakan suatu abstraksi kenyataan
dasar manusia Tingkah laku manusia dan
hasil-hasilnya merupakan bentuk kebudayaan hasil abstraksi kenyataan dasarmanusia.
D.
Keutuhan
(Integrasi) Kebudayaan
Telah diterangkan di muka, bahwa unsur-unsur kebudayaan banyak sekali jumlah dan macamnya.Meskipun demikian, unsur-unsur kebudayaan itu saling berhubungan satu dengan lainnya. Artinya, kebudayaan suatu suku bangsa atau bangsa tertentu tampak utuh tidakterpecah-pecah,contohnya adalah keris.Keris merupakan hasil kebudayaan Jawa. Keris memiliki hubungan dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa lainnya,misalnya menyangkut kepercayaan. Orang Jawa percaya, keris tertentu yang memiliki kekuatan gaib dapat berpengaruh pada kehidupan pemilik keris tersebut.
Keris dapat bersifat baik, dan dapat pula bersifat jelek
seringkali, sifat keris tersebut tergambar pada kehidupan pemiliknya.
Keris juga mempunyai hubungan denganp akaian adapt Jawa. Ada yang beranggapan keris sebagai benda seni, pusaka nenek moyang, benda bertuah, dan sebagainya. Dengan demikian, keris sebagai hasil budaya mempunyai keterkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan lain dalam masyarakat Jawa.
Dengan demikian, keris sebagai hasil budaya mempunyai
keterkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan lain dalam masyarakat Jawa.
Pergaulan hidup suku bangsa Indonesia berdasarkan gotong
royong.Kita dapat melihat lebih jelas kalau kebudayaan Indonesia itu dikaitkan
dengan keadaan lingkungan alam.
Kepulauan Indonesia terletak di daerah tropis dengan tumbuh-tumbuhan dan hewn khas daerah tropis. Keadaan lingkungan alam tropis ikut menyebabkan kesamaan-kesamaan dalam kebiasaan, cara hidup, dan mata pencaharian hidup.
Kepulauan Indonesia terletak di daerah tropis dengan tumbuh-tumbuhan dan hewn khas daerah tropis. Keadaan lingkungan alam tropis ikut menyebabkan kesamaan-kesamaan dalam kebiasaan, cara hidup, dan mata pencaharian hidup.
Rangkuman
jadi,budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
jadi,budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka
yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku oranglain
E.
Ragam Seni
budaya Kota Pekanbaru
- Tarian
Tari Persembahan adat MelayuTari
Persembahan adalah Sebuah tari Melayu yang khusus untuk menyambut tamu-tamu,
Tak lengkap rasanya bila suatu acara khusus tidak menampilkan tari persembahan
ini. tari persembahan bisa dibilang tari sekapur sirih. bila
rentak irama gendangnya dipercepat,ini menandakan acara pemberian sirih
kepada tamu undangan dimulai, Begitulah sampai para penari beranjak pergi.
- Nyanyian
Kumpulan Lagu-lagu daerah RiauLagu
Daerah Riau – Riau sebagai daerah kaya budaya dan seni sudah pasti memiliki
lagu daerah sendiri. Ada banyak lagu-lagu daerah Riau, mulai dari lagu
berbahasa Melayu,
Kebanyakan lagu daerah Riau jarang diputar radio-radio kota Pekanbaru, kecuali lagu-lagu sudah sangat populer seperti Lancang Kuning yang memang maestronya lagu daerah Riau.
Lagu Seroja
Lagu Tuanku Tambusai
Lagu Lancang Kuning
Lagu Tanjung Katung
Lagu Selayang Pandang
Lagu Hangtuah
Lagu Bunga Tanjung
Lagu Soleram
Kutang Barendo, Lagu daerah Kampar
Moncik Badasi, Lagu daerah Kampar
Randai Lomak Diurang Katuju di Awak, Lagu daerah Taluk Kuantan, Kuansing
- Musik tradisional
Gambus Melayu Riau, Seni Musik
TradisionalGambus Melayu Riau, Seni Musik TradisionalGambus Melayu Riau adalah
salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh
kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual dan kebersamaan dalam masyarakat
Melayu di Pekanbaru yang terjadi pada waktu ke waktu menyebabkan perubahan
pandangan masyarakat terhadap kesenian Gambus dan Zapin.kompang talempong.
- Kerajinan Tradisional
Kerajinan dari kota pekanbaru adalah
perabotan yang terbuat dari rotan
- Upacara tradisional
ü
Para ibu-ibu dan tetangga dekat
sedang memasak untuk acara Resepsi Pernikahan, biasanya diadakan di rumah
mempelai perempuan.Di Kabupaten pekanbaru dari zaman ninik mamak terdahulu, apa
bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai
yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu
kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi
pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena
masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong ini pula,
maka di kampar jarang sekali yang melakukan “catering” untuk acara pernikahan.
ü Acara Shalawatan (Badiqiu)
Badiqiu merupakan suatu acara Budaya sakral yang dilakukan
oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi
pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan
keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat
ü
Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak
Perempuan (Ba’aghak)
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah PihakPerempuan.
Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah PihakPerempuan.
Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.
- Cerita rakyat
Berikut kumpulan cerita rakyat dari
berbagai daerah di Riau diantara, Dumai, Indragiri Hilir dan Kota Pekanbaru.
- Cerita Rakyat Riau, Dumai: Putri ujuh
- Cerita Rakyat Riau, Inhil: Batu Batangkup
- Cerita Rakyat Riau: Si Lancang Kuning
- Cerita Rakyat Riau, Kota Pekanbaru – Putri Kaca Mayang
- Cerita Rakyat Riau, Inhil – Batang Tuaka
- Cerita Rakyat Riau, Kuansing – Ombak Nyalo Simutu Olang
- Cerita Rakyat Riau, Dumai: Putri ujuh
- Cerita Rakyat Riau, Inhil: Batu Batangkup
- Cerita Rakyat Riau: Si Lancang Kuning
- Cerita Rakyat Riau, Kota Pekanbaru – Putri Kaca Mayang
- Cerita Rakyat Riau, Inhil – Batang Tuaka
- Cerita Rakyat Riau, Kuansing – Ombak Nyalo Simutu Olang
- Permainan rakyat
Permainan Tradisional Daerah Riau,
GasingPermainan Tradisonal Riau
Apa permainan tradisional daerah Riau?.Jika Anda adalah orang Riau apalagi orang Melayu pasti sudah tahu, atau pernah memainkan, atau malah membuatnya.
Ya, mianan tradisional Riau, salah satunya, adalah gasing. Tidak jelas kapan pertama kalinya orang-orang memainkan gasing.Memang permainan tradisional di daerah Riau tidak hanya gasing, namun nyatanya gasinglah yang paling populer.
Gasing banyak banyak dimainkan di daerah Riau kepulauan seperti Natuna, Tanjung Pinang, Lingga dan disepanjang pantai timur Sumatra, khususnya orang Melayu.
Permainan bang senebu
Permainan ini dimainkan anak dengan jumlah 5-12 anak.Pemainan ini dimulai denga “uang” sejenis hompimpah.lalu dilanjutkan dengan cak gocih.Kemudian baru bermain bang senebu yang selanjutnya dilanjutkan pok-pok pungguk.
Apa permainan tradisional daerah Riau?.Jika Anda adalah orang Riau apalagi orang Melayu pasti sudah tahu, atau pernah memainkan, atau malah membuatnya.
Ya, mianan tradisional Riau, salah satunya, adalah gasing. Tidak jelas kapan pertama kalinya orang-orang memainkan gasing.Memang permainan tradisional di daerah Riau tidak hanya gasing, namun nyatanya gasinglah yang paling populer.
Gasing banyak banyak dimainkan di daerah Riau kepulauan seperti Natuna, Tanjung Pinang, Lingga dan disepanjang pantai timur Sumatra, khususnya orang Melayu.
Permainan bang senebu
Permainan ini dimainkan anak dengan jumlah 5-12 anak.Pemainan ini dimulai denga “uang” sejenis hompimpah.lalu dilanjutkan dengan cak gocih.Kemudian baru bermain bang senebu yang selanjutnya dilanjutkan pok-pok pungguk.
- Peninggalan sejarah
1.
Mesjid Raya Pekanbaru
Lokasi : Kecamatan Senapelan
Kotamadya : Pekanbaru
Lokasi : Kecamatan Senapelan
Kotamadya : Pekanbaru
2.
Makam Mahrum Bukit Dan Mahrum Pekan
Lokasi : Kecamatan Senapelan
Kotamadya : Pekanbaru
Lokasi : Kecamatan Senapelan
Kotamadya : Pekanbaru
3.
Tugu Pahlawan Kerja
Lokasi : Kecamatan Bukit Raya.
Kotamadya : Pekanbaru
Lokasi : Kecamatan Bukit Raya.
Kotamadya : Pekanbaru
4.
. Balai Adat Riau
Lokasi : Jalan Pangeran Diponegoro Pekanbaru.
Kotamadya : Pekanbaru.
Lokasi : Jalan Pangeran Diponegoro Pekanbaru.
Kotamadya : Pekanbaru.
5.
Bukit Batu, Bekas Tapak Kaki Manusia
Lokasi : Sungai Pakning
Kabupaten : Bengkalis.
Lokasi : Sungai Pakning
Kabupaten : Bengkalis.
6.
Komplek Istana Kerajaan Siak
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
7.
Makam Marhum Buantan
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
8.
Mesjid Kerajaan
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
9.
Makam Keluaga Raja
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
Lokasi : Kecamatan Siak Sri Indrapura
Kabupaten : Bengkalis.
- Makanan
Berikut daftar menu kuliner, masakan
Riau beserta resepnya yang-bisa ditemukan di-berbagai tempat Bumi Lancang
Kuning :
- Gulai Asam Pedas Ikan Patin, Masakan Khas Riau daratan
- Gulai Belacan, Masakan Khas Riau pantai timur Sumatra
- Gulai Sayur Lemak Kuah Santan, Kuliner Khas Riau
- Sambal Terung Asam, Masakan Khas Melayu Riau
- Bacah Daging, Kuliner – Makanan Khas Riau
- Gulai Belacan Udang – Makanan Khas Riau
- Gulai Asam Pedas Ikan Patin, Masakan Khas Riau daratan
- Gulai Belacan, Masakan Khas Riau pantai timur Sumatra
- Gulai Sayur Lemak Kuah Santan, Kuliner Khas Riau
- Sambal Terung Asam, Masakan Khas Melayu Riau
- Bacah Daging, Kuliner – Makanan Khas Riau
- Gulai Belacan Udang – Makanan Khas Riau
- Rangkuman
Daerah pekanbaru adalah sebagai
ibukota provinsi Riau, jadi harus tetap menjaga semua tradisi melayu yang ada.
F.
Ragam Seni
Budaya Daerah Kampar
- adat istiadat
Sebagai insan pendukung adat,tradisi
dan kebudayaan masyarakat Melayu
sangat mengenal prinsip tahu diri,yang artinya orang melayu
senantiasa berpegang pada ungkapan “Man ‘arafa nafsahu fa qod ‘arafa
rabbahu” bermakna siapa mengenal dirinya kenallah dia dengan Tuhannya.
Mekanisme pengenalan diri ini diatur secara adat resam yang telah beradaptasi dalam kehidupan masyarakat melayuBengkalis. Hal ini dapat kita lihat pada nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat perkawinan atau pernikahan di Bengkalis Negeri Junjungan.
Ajaran dan syariat agama Islam menjadi bagian yang paling utama termasuk pada upacara sakral helat pernikahan, sehingga disebut Adat Melayu bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah. Oleh karena itu senarai pernikahan ini memaparkan susur galur adat istiadat pernikahan atau perkawinan masyarakat melayu yang mengarah kepada kepentingan upacara protokoler.
Mekanisme pengenalan diri ini diatur secara adat resam yang telah beradaptasi dalam kehidupan masyarakat melayuBengkalis. Hal ini dapat kita lihat pada nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat perkawinan atau pernikahan di Bengkalis Negeri Junjungan.
Ajaran dan syariat agama Islam menjadi bagian yang paling utama termasuk pada upacara sakral helat pernikahan, sehingga disebut Adat Melayu bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah. Oleh karena itu senarai pernikahan ini memaparkan susur galur adat istiadat pernikahan atau perkawinan masyarakat melayu yang mengarah kepada kepentingan upacara protokoler.
Adapun tahapan – tahapan yang dilalui pada upacara adat pernikahan ini antara lain
• Merisik
• Meminang
• Mengantung
• Berinai Curi
• Berandam
• Antar Belanja
• Akad Nikah
• Upacara Berinai Lebai
• Khatam Al-quran
• Mengantar Hidangan
• Berarak
• Bersanding
• Makan Nasi Damai
• Upacara Menyembah
• Mandi Kumbo Taman
• Berkunjung Sanak Keluarga
- Kesenian
Pantun Melayu Menyambut Ramadhan
Pantun Melayu Menyambut Ramadhan, inilah ide yang timbul setelah sekian lama Blog Wisata Riau ini tidak tersentuh belaian mesra dariku, apa lagi sekarang kita memang sedang menyambut Bulan Suci Ramadhan. Untuk memeriahkan menyambut Bulan Suci Ramadhan ini saya mengajak kawan-kawan blogger untuk berpantun di kolom komentar, bagi yang ikut dapat tunjangan menyambut Bulan Suci Ramadhan dari saya. Yakni backling gratis dalam postingan ini. Baiklah inilah pantun pertama dari Krishadiawan :
Anak melayu mengail ikan
Perahu berlabuh ditengah lautan
Sambil menunggu datangnya Ramadhan
Pesan maaf kami sampaikan
Pantun Melayu Menyambut Ramadhan, inilah ide yang timbul setelah sekian lama Blog Wisata Riau ini tidak tersentuh belaian mesra dariku, apa lagi sekarang kita memang sedang menyambut Bulan Suci Ramadhan. Untuk memeriahkan menyambut Bulan Suci Ramadhan ini saya mengajak kawan-kawan blogger untuk berpantun di kolom komentar, bagi yang ikut dapat tunjangan menyambut Bulan Suci Ramadhan dari saya. Yakni backling gratis dalam postingan ini. Baiklah inilah pantun pertama dari Krishadiawan :
Anak melayu mengail ikan
Perahu berlabuh ditengah lautan
Sambil menunggu datangnya Ramadhan
Pesan maaf kami sampaikan
- Tarian
Tari sekapur sirih
Tari ini menggambarkan ungkapan rasa
putih hati masyarakat dalam menyambut tamu. Sekapur Sirih biasanya ditarikan
oleh 9 orang penari perempuan, dan 3 orang penari laki-laki, 1 orang yang
bertugas membawa payung dan 2 orang pengawal. Propetri yang digunakan:
cerano/wadah yang berisikan lembaran daun sirih, payung, keris. Pakaian: baju
kurung /adat Jambi, iringan musik langgam melayu dengan alat musik yang terdiri
dari : biola, gambus, akordion, rebana, gong dan gendang.
- Pakaian
Adat istiadat tentu tidak terlepas
dari Pakain Adat, itu sebuah ciri khas suatu daerah dengan adat istiadatnya
sesuai dengan Hukum dan Norma Adat yang berlaku. Berikut beberapa foto pakaian
adat, tradisional Melayu Riau. Pakain Adat ini adalah pakaian tradisional Riau,
walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah
Riau, yaitu pakaian adat Melayu Riau.
- Mata pencarian
Desa ranah memilikih ke unikan
tersendiri, dimana desa ini dikelilingi oleh aliran Sungai Kampar. Jumlah
penduduknya sekitar 1.000 kepala keluarga dengan mata pencarian sebagian besar
adalah pedagang, petani perkebunan dan petani tambak ikan.Di desa ini terdapat
objek wisata budaya, yaitu berupa rumah adat suku Bendang. Selain itu di desa
ini ada makanan khas berupa ikan lomak yang berasal dari tambak dan menjadi
ciri khas masakan di daerah ini.Daerah ini merupakan sentra produksi ikan di
Kabupaten Kampar, bahkan di provinsi Riau.Warga masyarakat desa Ranah sangat
kental dengan adat istiadat dan agama.
- Agama
Sebagian besar penduduk kampar
menganut agama islam.
G.
Ragam Seni
budaya daerah Bengkalis Dan Siak
- Adat istiadat
Upacara
melahirkan adalah merupakan upacara – upacara
yang adalah karena bagi masyarakat orang Melayu Riau lautan orang yang
melahirkan sama halnya dengan orang yang pergi berperang. Dalam peperangan itu
bertarung dengan maut, ia hanya menghadapi dua kemungkinan, yaitu hidup dan
mati.
Besarnya
tantangan dan resiko yang dihadapi oleh seorang ibu yang melahirkan upacara
melahirkan. Tujuannya adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa,
karena seorang ibu telah selesai dan selamat dalam melahirkan bayinya.
Tujuan pelaksanaan upacara melahirkan adalah :
Tujuan pelaksanaan upacara melahirkan adalah :
a.
Untuk menghalau sejenis hantu atau setan penghisap darah orang perempuan yang sedang melahirkan.
Untuk menghalau sejenis hantu atau setan penghisap darah orang perempuan yang sedang melahirkan.
b.
Memohon kepada Tuhan agar orang yang
melahirkan mendapat selamat dalam melahirkan bayinya.
Bentuk upacara melahirkan yang dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Riau lautan berupa :
Bentuk upacara melahirkan yang dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Riau lautan berupa :
§ Persiapan menyambut kelahian bayi, yaitu menyiapkan rumah
tempat melahirkan.
§ Meletakkan alat – alat, benda – benda yang dipakai dalam
upacara melahirkan.
§ Menunggu saat melahirkan, apabila saat melahirkan tiba ada
dua bidan yang disebut bidang bawah dan bidan atas adalah memandikan ibu,
mengganti pakaian ibu. Sedangkan bidan bawah tugasnya memandikan bayi, merawat
pusat dan perut agar tetap panas sehingga terhindar dari penyakit perut.
- Seni
Songket adalah salah satu kerajinan
budaya melayu yang berupa kain tenun yang biasanya dipakai pada acara-acara
formal. Songket dapat digunakan oleh wanita maupun pria. untuk membuat songket
dibutuhkan alat tenun yang pada umumnya masih dibuat secara tradisional
atau dikerjakan secara manual dengan menggunakan tangan dan kaki.
- Tarian
Zapin
Musik pengiringnya terdiri dari dua alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
- Pakaian
Gambar / Foto Pakaian Adat,
Tradisional Melayu Siak Riau
Foto / Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Kabupaten Bengkalis Riau
Foto / Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Kabupaten Bengkalis Riau
- Mata pencaharian
Mata pencaharian penduduk Bengkalis
adalah sebagai nelayan dan juga PNS, karena di Pulau Bengkalis inilah letak
pusat pemerintahan untuk kabupaten Bengkalis , yang meliputi Duri dan Dumai.
Bisa dibayangkan dong, kalau ingin membuat akte kelahiran kita harus menyebrang
pulau dari Duri ke Pulau ini
- Agama
Di bengkalis dan siak penduduk nya
ada yang menganut agama islam,Kristen dan konghouchu.
5.adat perkawinan
5.adat perkawinan
ü Para ibu-ibu dan tetangga dekat sedang memasak untuk acara
Resepsi Pernikahan,biasanya diadakan di rumah mempelai perempuan.Di Kabupaten
Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang
hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil
para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari
ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini
tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal
dengan cara bergotong royong ini pula, maka di kampar jarang sekali yang
melakukan “catering” untuk acara pernikahan.
ü Acara Shalawatan (Badiqiu) Badiqiu merupakan suatu acara Budaya
sakral yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari
sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini
berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh
hingga akhir hayat.
ü Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan
(Ba’aghak)
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan.Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan.Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.
ü Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran
(Jambau)
Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, “jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran (Jambau), ini bisa kita temui di beberapa daerah saja di kabupaten kampar.
Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, “jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran (Jambau), ini bisa kita temui di beberapa daerah saja di kabupaten kampar.
ü
Pernikahan adat melayu riau
Pernikahan adat melayu riau
Upacara adat melayu riau diawali dari
1. Malam Berinai
2. Berandam
3. Upacara pernikahan
4. Resepsi pernikahan
malam berinai adalah malam memasangkan inai di jari calon mempelai yg di hadiri oleh para keluarga mempelai dan ibu-ibu rabana. dimana acara ini di pimpin oleh mak andam.
upacara berandam adalah mencukur bulu halus yang ada di wajah calon pengantin wanita, yang di pimpin oleh mak andam. adapun media untuk berandam adalah :
1. pisau silet
2. kain putih 2 meter
3. kelapa tua
4. jeruk purut
5. telur ayam kampung
6. bunga kenanga dan bunga mawar
7. Lilin
setelah
dilakukan upacara berandam besok hari nya baru dilanjutkan upacara pernikahan yaitu
pembacaan ijab kabul.setelah pembacaan ijab kabul biasanya di lanjutkan dengan
resepsi pernikahan. biasanya di Riau khusus nya di Pekanbaru resepsi sering di
laksanakan di Aula Masjid Agung An-nur.
terlihat
padatnya jadwal yang sudah di pesan jauh- jauh hari untuk dilaksanakan nya
resepsi pernikahan. jadi jika resepsi nya direncanakan diaula masjid Agung
Annur harus dipesan jauh-jauhhari.


Foto /
Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Kabupaten Bengkalis Riau

Gambar /
Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Tanjung Pinang, Kepulauan Riau

Foto /
Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Batam Kepulauan Riau

Gambar /
Foto Pakaian Adat, Tradisional Indragiri Riau

Gambar /
Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Siak Riau


Gambar /
Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Tanjung Pinang, Kepulauan Riau




H. Nilai – Nilai Adab Melayu Riau Dalam Kebudayaan
Melayu Riau
Nilai-nilai
Islam akan mendominasi dan mengakar kuat dalam sistem budaya suatu masyarakat
apabila nilai-nilai Islam berakulturasi ke dalam budaya masyarakat melalui
proses yang intensif, gradual, akomodatif, empatif, dan berkelanjutan, bukan
frontal dan konfrontatif Dari sisi sosiologi, akulturasi Islam ke dalam suatu
masyarakat dapat menjadikan Islam sebagai suatu identitas dan pengikat
solidaritas suatu komunitas (spirit de corps), karena itu identitas dan
solidaritas suatu komunitas tidak mutlak berdasarkan kesatuan etnis. Ia juga
dapat juga terbentuk atas kesatuan aqidah. Kesatuan sosial inilah yang disebut
dengan ummat
Dakwah
islamiyah yang dilaksanakan dengan pendekatan cultural, akomodatif –empatik,
menghasilkan respon yang positif-simpatik, dapat menekan intensitas konflik
karena perbedaan sistem dan orientasi nilai, mengembangkan toleransi, saling
menghormati, dan menerima kemajemukan keberagaman umat sebagai realitas
historis dan manusiawi. Secara empiris, akulturasi Islam ke dalam budaya Melayu
Palalawan, telah menjadikan Islam sebagai identitas kemelayuan orang Pelalawan,
sehingga identitas kemelayuan tidak selamanya didasarkan pada faktor genetis,
tapi juga dapat terbentuk atas dasar aqidah.
Dengan
demikian, “Melayu” adalah konsep terbuka yang dapat dimasuki siapa saja melalui
koridor Islam. Sebaliknya kemelayuan orang Melayu akan hilang apabila tidak
berbajukan Islam. Secara praktis operasional, penelitian ini memberi kontribusi
bahwa orang-orang Melayu akan mencapai kemajuan apabila pandangan hidup mereka
yang dogmatis-mistis ditransformasikan kepada pandangan hidup yang rasional
empiris melalui transformasi pemikiran dan pemahaman mereka atas Islam dan
nilai-nilai budayanya sendiri, sehingga keberagamaan dan keberbudayaan
orang-orang Melayu menjadi lebih rasional.
I. Sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau
Jika pada mulanya suatu kampung di Riau
didiami oleh mereka yang sesuku, maka pada perkembangn kemudian telah banyak
penduduk baru yang bukan sesuku merupakan penduduk pendatang yang ikut berdiam
di kampung tersebut. Datangnya penduduk baru mungkin disebabkan perkawinan dan
ada pula disebabkan adanya mata pencaharian ditempat tersebut. Dengan demikian,
masyarakat kampung tadi tidak terikat oleh karena kesatuan suku, tetapi dengan
perkembangan baru itu, ikatan tersebut tidak lagi bersifat kesukuan, tetapi
terikat karena kesatuan tempat tinggal dan kampung halaman.
Kampung-kampung tersebut dipimpin oleh seorang
kepala kampung yang disebut “Penghulu” dan sekarang merupakan pamong desa yang
dipilih berdasar peraturan pemerintah.
Disamping penghulu ini terdapat pula pimpinan
bidang agama, yaitu “imam”. Imam inilah yang mengurus segala persoalan yang
menyangkut keagamaan, seperti menjadi imam mesjid, pengajian dan pelajaran
agama, nikah/cerai/rujuk, pembagian warisan, pengumpulan zakat dan lainnya.
Dengan demikian penghulu dengan didampingi oleh imam merupakan pimpinan
kampung.
a. Pimpinan dalam
kesatuan hidup setempat
Terdapat bermacam-macam sebutan untuk pimpinan
dalam kesatuan hidup setempat. Pada mulanya struktur kesatuan hidup setempat
berdasarkan kesukuan, maka pemimpin adalah kepala suku atau kepala hinduk.
Gelar kepala suku atau kepala hinduk ini bermacam-macam, sebagai berikut:
1. Datuk = disamping
menjadi kepala suku, sekaligus menjadi pimpinan territorial yang agak luas yang
mencakup dan membawahi beberapa kepala suku dan hinduk-hinduk.
2. Penghulu, batin,
tua-tua, jenang dan monti adalah gelar untuk kepala suku dan hinduk-hinduk.
Perkembangan kemudian menyebabkan pula
perobahan batas-batas territorial, kalau pada mulanya territorial mengikuti
suku, yaitu dimana suku tersebut menetap, maka lingkungan tempat tinggalnya itu
menjadi daerah kekuasaannya. Tetapi keadaan ini kemudian berbalik, yaitu suku
yang mengikuti territorial. Teritoir ini kemudian disebut “kampung”, “rantau”
atau “banjar”. Mereka yang tinggal dalam lingkungan teritoir tadi mejadi
penduduk kampung dan dengan sendirinya kampung ini mencakup beberapa kesukuan.
Untuk kampung, rantau atau banjar ini diangkat seorang kepala kampung yang
disebut “penghulu”.
b. Hubungan sosial dalam kesatuan hidup setempat
Dikampung-kampung penduduk saling mengenal
satu sama lain, karena masyarakat kampung memiliki rasa keterikatan antara satu
sama lainnya masih kuat.
Kerukunan merupakan cirri khas dari masyarakat
kampung-kampung tersebut. Adanya kerukunan ini bukan disebabkan karena paksaan
dari luar berupa sangsi-sangsi hukuman yang keras, tetapi memang timbul dari
hati nurani yang dipengaruhi oleh norma-norma yang hidup dimasyarakat itu.
Mulai dari gerak-gerik, sikap dan pembawaan
dipengaruhi oleh faktor ini. Menghindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan aib
dan malu merupakan fakor pendorong untuk terus berbuat dan bersikap baik
terhadao sesamanya dan perasaan yang demikian lebih kuat dibandingkan dengan
perasaan berdosa. Segala tindakan harus dijaga supaya tidak menimbulkan
“sumbang mata”, “sumbang telinga”, “sumbang adab”. Secara keseluruhan haruslah
dihindari hal-hal yang menyebabkan orang di cap sebagai seorang yang “tidak tau
adat’.
Dengan demikian jelaslah, norma-norma yang
bersifat lebih besar pengaruhnya, sehingga jarang dijumpai adanya pertikaian
dan sengketa. Dalamhal ini pengaruh kepemimpinan penghulu dan imam merupakan
saham yang besar, sehingga pertikaian-pertikaian yang timbul segera dapat
didamaikan.
c. Stratifikasi
Sosial
Dasar-dasar
stratifikasi sosial
Adapun masyarakat di saerah ini pada dasarnya
terdiri dari dua golongan, yaitu golongan asli dan golongan penguasa. Sebelum
adanya kerajaan Siak Sri Inderapura, kepala-kepala suku yang menguasai hutan
tanah, “territorial” bernaung dibawah kerajaan Johor.
Setelah Raja Kecil yang dapat meduduki takhta
Kerajaan Johor, terpaksa meninggalkan Johor dan terkhir membuka kerajaan baru
di sungai Siak, maka kerajaannya dinamakan “Kerajaan Siak Sri Inderapura”.
Dengan keadaan yang baru ini, terjadilah pembagian golongan dalam masyarakat.
Jika pada mulanya yang ada hanya kepala suku sebagai puncak dan anggota sukunya
sebagai dasarnya, maka dengan adanya Sultan beserta keturunannya, terjadilah tingkatan
sosial baru sebagai berikut:
1.
Raja/Ratu dan
Permaisuri yang merupakan tingkat teratas.
2.
Keturunan Raja yang
disebut anak Raja-raja, merupakan lapisan kedua,
3.
Orang baik-baik yang
terdiri dari Datuk Empat Suku dan Kepala-kepala suku lainnya beserta
keturunannya merupakan lapisan ketiga,
4.
Orang kebanyakan atau
rakyat umum, merupakan tingkatan terbawah.
Adanya tingkatan sosial tersebut membawa
konsekuensi pula dibidang adat istiadat dan tata cara pergaulan masyarakat.
Makin tinggi golongannya semakin banyak hak-haknya. Keistimewaan dalam tata
pakaian, tempat duduk dalam upaca-upacara menunjukan adanya perbedaan itu
Perubahan dalam
stratifikasi sosial
Perubahan ketata negaraan membawa perubahan
pula dalam stratifikasi sosial ini. Saat ini ketentuan-ketentuan adat ini sudah
tidak mengikat lagi dan pada umumnya sudah disesuaikan dengan alam demokrasi
sekarang, sehingga perbedaan golongan tingkat ini sudah
tidak kelihatan lagi dalam pergaulan. Pada waktu ini lebih diutamakan
kepribadian, kedudukan dan keadaan materiel seseorang menurut ukuran sekarang.
Dalam upacara perkawinan misalnya, maka yang
mempunyai kemampuan materiel, bisa memakai pakaian dan perlengkapan yang
seharusnya dieruntukan bagi seorang Raja atau Sultan. Dalam upacar adat yang
diadakan sekrang, yang dianggap tinggi adalah pejabat-pejabat pemerintah sesuai
menurut kedudukannya sekarang, tidak lagi Datuk-datuk atau Tengku-tengku.
Upacara adat sekarang sudah beralih fungsinya. Adanya pucara adat ini hanya
sekedar menunjukkan identitas suuku bangsanya dengan kejayaannya dengan masa
lampau.
J. Struktur kemasyarakatan dalam kebudayaan melayu riau
Masyarakat Melayu Riau pada dasarnya terdiri dari dua dua
stratifikasi Sosial atau golongan, yaitu golongan masyarakat asli dan golongan
penguasa atau bangsawan kesultanan. Meskipun demikian, struktur sosial orang
Melayu Riau sebenarnya longgar dan terbuka bagi kebudayaan lain. Sehingga
banyak orang Arab dan Bugis yang menjadi bangsawan.
Wan
adalah gelar bangsawan bagi orang
Arab dan raja adalah gelar kebangsawanan orang Bugis. Mereka juga
mendapat kedudukan yang sangat tinggi (Sultan Siak dan Sultan-sultan Kerajaan
riau-Lingga). Sedangkan, gelar bangsawan untuk orang Melayu adalah tengku.
Pada
awalnya kepala-kepala suku yang menguasai hutan tanah, “territorial” bernaung
di bawah kerajaan Johor. Namun setelah Raja Kecil dapat meduduki takhta
Kerajaan Johor, terpaksa Keluarga kesultanan meninggalkan Johor dan membuka
kerajaan baru di sungai Siak, maka kerajaannya dinamakan “Kerajaan Siak Sri
Inderapura”. Dalam keadaan yang baru ini, pembagian golongan dalam masyarakat
Riau mulai berlaku.
Jika
pada mulanya yang ada hanya kepala suku sebagai puncak dan anggota sukunya
sebagai dasarnya, maka dengan adanya Sultan beserta keturunannya, terjadilah
tingkatan sosial baru sebagai berikut: Raja/Ratu dan Permaisuri yang merupakan
tingkat teratas. Keturunan Raja yang disebut anak Raja-raja, merupakan lapisan
kedua. Orang baik-baik yang terdiri dari Datuk Empat Suku dan Kepala-kepala
suku lainnya beserta keturunannya merupakan lapisan ketiga. Orang kebanyakan
atau rakyat umum, merupakan tingkatan terbawah.
Adanya
tingkatan sosial tersebut membawa konsekuensi pula dibidang adat istiadat dan
tata cara pergaulan masyarakat. Makin tinggi golongannya semakin banyak hak-
haknya, seperti; keistimewaan dalam tata pakaian, tempat duduk dalam
upaca-upacara pun menunjukan adanya perbedaan itu.
Pada
perkembangan kekinian, seiring dengan perubahan ketatanegaraan akhirnya berubah
juga stratifikasi sosial ini. Saat ini ketentuan-ketentuan adat ini sudah
tidak mengikat lagi dan pada umumnya sudah disesuaikan dengan alam demokrasi
sekarang. Sehingga perbedaan golongan tingkat ini sudah tidak kelihatan lagi
dalam pergaulan. Pada waktu ini lebih diutamakan kepribadian, kedudukan dan
keadaan materiel seseorang menurut ukuran sekarang.
Dalam
upacara perkawinan misalnya, bagi mereka yang mempunyai kemampuan materiel,
bisa memakai pakaian dan perlengkapan yang seharusnya diperuntukan bagi seorang
Raja atau Sultan. Dalam upacar adat yang diadakan sekarang, yang dianggap
tinggi adalah pejabat-pejabat pemerintah sesuai menurut kedudukannya sekarang,
bukan lagi Datuk-datuk atau Tengku-tengku. Upacara adat sekarang sudah beralih
fungsinya. Adanya upacara adat ini hanya sekedar menunjukkan identitas suku
bangsanya dengan kejayaannya dengan masa lampau.
Dengan
demikian, perkembangan budaya dalam pemahaman nation atau negara Indonesia hari
ini, tidak mengenal kasta, strata, jenis tertentu dalam masyarkat. Hal ini
menunjukkan sisi egalitarian bangsa Indonesia dalam menyikapi ragam budaya,
serta garis sejarah yang panjang di masing-masing daerahnya.
Dengan
sifat egalitarian ini, sangat memungkinkan perbedaan yang ada bisa kita duduk
sejajar dalam bermasyarakat meski berasal dari asal usul, golongan atau nenek
moyang yang berbeda. Dan pentingnya pembelajaran adat dan budaya nenek moyang
adalah untuk memahami makna filosofis yang terkandung bukan untuk memperdalam
jurang pemisaha kebhinekaan kita.
K. Tugas dan fungsi dari struktur kemasyarakatan dalam
kebudayaan melayu riau
Beberapa tugas dan fungsi struktur kemasyarakatan masyarakat
melayu di beberapa daerah riau diantaranya adalah sebagai berikut. Kampar
Dikabupaten kampar yang kita kenal sekarang, memiliki bentuk struktur
kemasyarakatan yang beragam, sehingga mewarnai tugas dan fungsinya.
Dikenal dengan
istilah kenegrian, bentuk struktur kemasyrakatannya merupakan gabungan dari
persukuan. Tetapi sebaliknya ada juga yang dikenal dengan hanya suku saja.
Menurut Hendrik anak Abdulrahman (bahan-bahan untuk menyusun kitap khatam kaji
doktoral, 2012), sebagai sebuah kumpulan dari persukuan, maka yang duduk dalam
kenegerian tersebut adalah ketua-ketua suku. Sebagai contoh dalam masyrakat
kecamatan kampar alias kenegerian kampar, dapat diterangkan sebagai berikut:
Pucuk tertinggi kenegrian kampar: - Suku Domo ( domo tua ) bergelar datuk
temenggung. Tugasnya menggurus keluar dan kedalam persukuan. Bertanggung jawap
penuh terhadap kesukuan (pucuk tertinggi) - Suku Pitopang bergelar Dtuk Manjo
Bosau.
Tugasnya kedalam persukuan (dalam sistem pemerintahan
sekarang, sama dengan sekda) Mereka dibantu oleh: - Suku Domo (mudo) bergelar
Datuk Bijanso - Suku Melayu (tua) bergelar Datuk Baduku Tua - Suku Melayu
(muda) bergelar Datuk Marajo Bosau - Suku Piliang bergelar Datuk Tiawan - Suku
Kampai bergelar Datuk Paduko - Suku Bendang bergelar Datuk Somak Dirajo Catatan
: struktur adat dalam setiap kenegrian berbeda-beda, sesuai dengan suku yang
ada dalam negri tersebut suku: setiap suku memiliki struktur, yakini: -
Penghulu : pucuk tertinggi dalam suku - Tungkek : wakil penghulu - Tuo Kampung
: yang mengurus sosial masyarakat - Malin kebesaran : yang mengurus masalah
agama - Dubalang : keamanan - Siompu : yang mengurus masalah perempuan
Kuantan dan sengingi: Kawasan kuantan dan sengingi yang kini
masuk dalam admistrasi pemerintahan kabupaten kuantan sengingi semula merupakan
kawasan kerajaan-kerajaan kandis yang bentuk struktur sistem kemasyarakatannya
sekaligus berkaitan dengan fungsi maupun tugasnya, diperkirakan menggunakan
sistem kerajaan pada abad ke-8. Pada gilirannya sistem ini menurut susunan suku
dan koto-koto. Negri ini kemudian dikenal sebagai Negori Puluh Kurang Osu atau
negeri terdiri atas 19 koto yang dipimpin oleh 19 Datuk dengan berkedudukan di
koto-koto. Menurut Prof Suwardi MS (2010), koto-koto dikuantan dibagi menurut
aliran Batang Kuantan (Sungai Indragiri) dan kawasan daratan sebagai beikut: -
Empat koto yang berkedudukan di Lubuk Ambacang. Pemimpinya di sebut Datuk
Patih; - Limo koto di tongah berkedudukan di kari dengan pemimpin yang disebut
Datuk Lelo Budi; - Empat koto dihilir berkedudukan di inuman dipimpin oleh
Datuk Temenggung; - Empat koto digunung dipimpin oleh Datuk Bendaro; - Satu
koto di Lubuk Ramo, dipimpin oleh Datuk Timbang Tali; - Satu koto di Logas
Tanah Darek berkedudukan dilogas Tanah Darat yang dipimpin oleh Datuk Rajo
Ruhum, dan - Satu koto di Pangean berkedudukan di Desa Koto Tinggi Pengean yang
dipimpin oleh Penghulu nan Barompek. Koto-koto itu kemudian membentuk federasi
yang masing-masing dipimpin oleh Urang Godang ( orang besar ).
Orang godang ini dipimpin salah seorang diantaranya, disbut
Datuk Bisai, berkedudukan di Teluk Kuantan. Lain lagi di Sengingi. Di kawasan
ini dua datuk dibedakan atas Raja Adat dari Pagaruyung dan Rajo Ibadat dari
semanjung Melayu ( Malaysia sekarang ). Mereka disebut Datuk Nan Beduo, di
sebut juga Urang Godang Antau. Mereka bertugas dan berfungsi sebagai pelaksana
pemerintahan, mengatur kehidupan masyarakat sebagai pihak terkelola. Pekerjaan
mereka untuk urusan adat dibantu oleh tujuh datuk. Jadi, jumlah datuk yang
menjalankan tugas maupun fungsi pemerintahan dan adat berjumlah sembilan oarang,
sehingga disebut Datuk yang Sembilan. Tujuh datuk berkedudukan dikoto-koto
Tanjung Pauh (utara) dan logas (selatan), yaitu: - Datuk Bendaro Kali - Datuk
Mangkuto Sinaro - Datuk Sinaro Nan Putiah - Datuk Besar - Datuk Maharajo Garang
- Datuk Nyato - Datuk Jalelo –
Siak sri indrapura Kerajaan siak sri indrapura memiliki
kawasan lebih luas di banding kerajaan-kerajaan yag pernah ada di kawasan
melayu Riau. Secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taaat beragama,
siak dalam anggapan melayu sangat bertali erat dengan agama islam. orang siak
adalah orang-orang yang ahli agama islam. dalam bahasa sansekerta, sri
berarti''bercahaya'' dan indera bermakna ''raja''. sedangkan pura berarti
''kota atau kerajaan''. Membandingkan dengan catatan Tome pires (1513-1515)
belum mnyebutkan adanya nama siak antara kawasan arcat dan indragiri yang
disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja minangkabau serta juga menyebutkan
dari tiga raja minangkabau itu hanya satu raja yang telah masuk islam sehingga
jika dikaitkan dengan pepatah minangkabau yang terkenal'' adat menurun syara'
mendaki dapat bermakna masuknya islam ke dataran tinggi pedalaman minangkabau
dari siak sehingga orang-orang yang ahli dalam agama sejak dahulu sampai
sekarang masih tetap di sebut dengan orang siak.
Nama siak dapat merujuk pada sebuah klan dikawasan antara
pakistan dan india, sihag atau asiag yang bermakna pedang. masyarakat ini di
kaitkan dengan bangsa asli, masyarakat nomanden yang disebut oleh masyarakat
romawi dan diidentifikasikan sebagai sakai oleh strabo seorang penulis geografi
yunani. berkaitan dengan ini pada sehiliran sungai siak sampai hari ini masih
dijumpai masyarakat asing yang dinamakan sebagai orang sakai.
kerajaan siak sri indrapura Pernah menguasai daerah-daerah
disumatra utara dan kalimanatan barat samapi pertengahan abad ke-19, kerajaan
ini meninggalkan pengaruh yang amat besar pada wilayah provinsi riau sekarang
seperti kota pekanbaru, kota dumai, kabupaten bengkalis, kabupaten meranti,
kabupaten rokan hilir dan kabupaten siak sendiri. Sebagian palalawan dan
kampar, pernah berada dalam kawasan kerajaan siak.
Tidak diherankan
apabila bentuk struktur dengan tugas dan fungsi sistem kemasyarakatan
didaerah-daerah tersebut mengacu pada apa yang terjadi secara umum dalam
kerajaan siak. awalnya kerajaan ini di dirikan di Buantan oleh raja kecik dari
Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723,setelah sebelumnya
tersingkir atas tahta kesultanan johor. Disisi lain, harus diakaui sistem
kemasyarakatan dikawasan ini tidak terjadi secara otomatis begitu saja saat
raja kecik membangun kekuatan baru di buantan setelah tersingkir dari johor
awal abad ke-18. Sebab sebelumnya juga, dikawasan tersebut telah hidup suatu
kerajaan yang cukup berpengaruh yakini gasip.
Dengan demikian, penataan pemerintahan dan kemasyarakatan
yang dilakukan raja kecik pada tahun-tahun awal berkuasa, besar kemungkinan
modifikasi dari sistem kemasyarakatan yang telah ada sebelumnya. Dalam
melaksanakan pemerintahan, raja kecik membantu penasehat sultan atau disebut
orang besar yakini: - Datuk Lima Puuh bergelar Sri Bijuangsa - Datuk Tanah
Datar bergelar Sri Pekerma Raja - Datuk pesisir bergelar Maharaja Ketuangsa,
dan - Datuk Laksmana Raja Dilaut Pembesar kerajaan lain yang membantu sultan
adalah: - Panglima perang - Datuk Himba Raja - Datuk Bentara Kiri - Datuk
Bentara Kanan, dan - Datuk Bendahara Untuk berhubungan langsung dengan
masyarakat, di setiap daerah, pemerintah dibagi-bagai menjadi kepala suku yang
bergelar penghulu, orang kaya, dan batin.
Khusus penghulu, tidak memiliki tanah ulayat yang dalam
pekerjaan dibantu oleh : - Sangko panghulu atau wakil penghulu - Malin
penghulu, pembantu urusan kepercayaan, atau agama - Lelo penghulu, pembantu
urusan adat sekaligus berfungsi sebagai hulubalang Adapun batin dibantu oleh: -
Tongkat, urusan yang menyangkut kewajiban-kewajiban terhadap sultan - Monti,
pembantu batin urusan adat - Antan-antan, pembantu batin yang sewaktu-waktu
dapat dapat mewakili tongkat atau monti kalau keduanya berhalangan.
Sekurang-kurangnya terdapat sepuluh perbatinan dan empat penghulu telah
terwujud saat raja kecik mengembangkan kawasan ini menjadi kerajaan siak.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan yang
didapat dari makalah ini adalah
sejauh mana pengetahuan seseorang terhadap kebudayaannya sendiri dipengaruhi
oleh berberapa hal dan salah satunya adalah dirinya sendiri. Besar atau
kecilnya nya rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaannya itulah yang nantinya
mencerminkan bahwa sejauh mana seseorang mengenali budayanya sendiri.Jika
semakin kecil rasa kecintaannya maka jelaslah seseorang tersebut belum terlalu
dekat dengan budaya sukunya sendiri, begitu juga sebaliknya.
Mengenali budaya sendiri khususnya
melayu merupakan sebuah keharusan baginya yang mengaku melayu.Sedikit banyaknya
pengetahuan kita mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya melayu
menjadikan kita secara tidak langsung mempelajari budaya itu sendiri. Seperti
yang dikatakan para pakar bahwa seseorang yang mengaku melayu jikalau ia: 1.
Berbahasa melayu, 2. Beradat-istiadat Melayu dan 3. Beragama Islam. Maka dari itu, ketiga hal inilah
menjadi patokan ataupun barometer sejauh mana kita sudah menjadi bagian dari
budaya itu sendiri khususnya budaya melayu.
B. SARAN
Penulis merekomendasikan pada semua lapisan masyarakat
agar lebih memahami nilai-nilai
yang terkandung didalam setiap kebudayaan masing-masing (disini:_budaya melayu
riau). Semua orang pasti memiliki cara pandang yang berbeda-beda untuk
mendeskripsikan bentuk kebudayaannya. Dan setiap orang memiliki cara
masing-masing untuk mempertahankan dan memajukan kebudayaannya sendiri. Sebagai
seorang melayu hendaknya lebih mengedepankan kembali apa-apa saja yang
berkaitan dengan kebudayaan melayu, termasuk menanamkan diri sendiri rasa
bangga dan cinta kepada budaya melayu itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Effendy, T. 1985. Kumpulan
Ungkapan. Naskah yang belum diterbitkan, Pekanbaru.
Hoeve, I. B. van. 1984. Ensiklopedi
Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Kerajaan Siak.
1901. Babul Qawa‘id. Siak Sri Indrapura: Percetakan Kerajaan Siak Sri
Indrapura.
Sujiman, P. H. M. 1983. Adat
Raja-raja Melayu.Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Tonel, T. 1920. Adat-istiadat
Melayu.Naskah tulisan tangan huruf Melayu Arab, Pelalawan.
Yayasan Kanisius. 1973. Ensiklopedi
Umum. Yogyakarta: Kanisius.